Habitat Satwa Liar di Bandung Barat Terus Terancam

Habitat Satwa Liar di Bandung Barat Terus Terancam

Keberlangsungan hidup satwa liar di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dari tahun ke tahun terus terancam.

Mereka harus bertahan hidup di tengah-tengah gencarnya praktek pemburuan dan terus terkikis komunitas aslinya.

Keadaan itu dapat disaksikan dari jumlahnya kasus satwa liar menggempur permukiman warga, baik di daerah selatan maupun daerah Utara Bandung Barat.

Mereka berperangai semacam itu dikarenakan oleh komunitas mereka terancam, baik oleh pemburuan atau rumahnya yang tergusur.

“Di daerah Utara kita kerap dengar informasi monyet menggempur permukiman, dan di Selatan kita mengetahui ada kasus mengajak serang peternak. Ini bukti bukan mereka kejam, tetapi keberlangsungan hidupnya terancam,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Undang Husni Thamrin, Selasa 5 Oktober 2021.

Undang menerangkan terancamnya komunitas satwa liar di KBB karena masifnya pembangunan tujuan rekreasi, pembukaan tempat pertanian, sampai permukiman warga.

“Dari tahun ke tahun memang komunitas satwa liar ini selalu terancam. Kita khawatir . Semakin besar perkembangan warga, rupanya semakin memberikan ancaman satwa,” sambungnya.

Dengan keadaan ini, Undang ajak seluruh warga untuk selalu melestarikan komunitas satwa, lakukan pemburuan, dan setop beli dan memiara satwa sangat jarang.

Undang merekomendasikan, bila memiliki menyenangi satwa baik sangat jarang atau liar, lebih bagus datangi saja ke kebun visit here binatang. Di situ dapat dengan bebas menyaksikan berbagai bermacam satwa, yang jarang-jarang diketemukan disekitaran kita.

“Banyak hewan yang dilarang untuk dipiara, itu seharusnya jangan dipiara. Karena kelak kita akan memutuskan rantai ekosistem di komunitas aslinya,” sambungnya.

Larangan beli dan memiara satwa sangat jarang itu, menjadi satu diantara kampanye bersamaan dengan peringatan Hari Hewan se-Dunia, pada 4 Oktober 2021.

Undang mengatakan, kampanye yang digelontorkan pada Hari Hewan se-Dunia itu, penuh dengan pesan kepribadian terkait dengan jaga ekosistem lingkungan.

Menurut dia, warga harus perduli pada satwa dengan jaga lingkungannya. Jika satwa diambil dari ekosistemnya, karena itu ada rantai makanan akan terputus.

“Itu akan memberikan ancaman keselamatan juga manusia,” terangnya.

Sementara Kepala Sektor Kesehatan Hewan (Keswan) Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti menambah, rusaknya lingkungan dan ekosistem satwa, akan punya pengaruh juga pada kesehatan manusia.

Karena ada satwa liar di permukiman, bawa teror penyebaran penyakit zoonosis, baik itu EID (Emerging Infectious Disease) atau Re-EID, penyakit yang telah lama tidak ada, selanjutnya ada kembali.

“Makin hewan liar atau satwa sangat jarang itu dekat sama kita, makin kita berefek tinggi pada terjangkitnya penyakit zonosis,” bebernya.

Join The Discussion

Terms of Service