ASEAN, Jepang dan UNDP Luncurkan Proyek Ekonomi Biru, Ajak Inovator Temukan Solusi Situasi Ekosistem Laut

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), bersama dengan Jepang dan Badan Pembangunan PBB (UNDP) Indonesia, legal meluncurkan proyek “ASEAN Blue Economy Innovation Project”.

Paralel dengan salah satu kerangka kerja sama ASEAN yakni optimalisasi “Blue Economy” atau Ekonomi Biru, proyek ini mengajak para innovator dari sepuluh negara ASEAN dan Timor Leste untuk dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi secara inklusif dan berkelanjutan serta mendorong kemajuan di sektor biru, yang meliputi ekosistem laut dan air tawar.
Proyek ini meliputi tiga kegiatan utama: ASEAN Blue Innovation Challenge, Program Inkubasi, dan program Temu Usaha (Business Matchmaking).

Lewat tiga inisiatif tersebut, 60 inovator yang sukses terpilih akan mendapatkan dukungan finansial, masing-masing senilai USD 40.000 atau sekitar Rp645 juta. Kecuali itu, mereka juga akan dilibatkan dalam program pendampingan selama program inkubasi untuk menyempurnakan dan mengkomersialisasikan solusi mereka selama periode enam bulan.

Sementara selama menjalani kegiatan Business Matchmaking, tim pemenang berkesempatan mempresentasikan slot bonus new member solusi inovatif mereka kepada komunitas bisnis, pemodal, dan pemodal untuk mendapatkan akses ke investasi biru di wilayah tersebut.

“Proyek ini tidak cuma bertujuan membetuli hasil ekonomi dari sektor kelautan, tetapi juga meningkatkan resiliensi masyarakat pesisir dalam menghadapi perubahan iklim dan degradasi lingkungan,” kata Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn yang memberi tahu pidato pembukaannya melewati rekaman video dalam acara peluncuran di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Selasa (14/5/2024).

“Aku yakin bahwa proyek ini akan menandai tonggak penting dalam perjalanan kita menuju ekonomi biru ASEAN yang berkelanjutan dan sejahtera,” ungkap ia.

Pendaftaran “ASEAN Blue Economy Innovation Project” dibuka untuk awam hingga 1 Mei 2024 tengah malam waktu Jakarta.

Pentingnya Solusi Bagi Ekosistem Laut

ASEAN memiliki berbagai sumber tenaga kelautan dengan estimasi skor pasar hingga USD 2,5 triliun per tahun atau lima persen dari ekonomi global.

Dengan besarnya potensi tersebut, posisi yang strategis serta berada di garis depan potensi maritim dunia, negara-negara ASEAN memiliki sejumlah tantangan yang susah dipecahkan. Berita seperti penangkapan ikan berlebih, degradasi habitat, dan polusi laut menjadi ancaman yang signifikan bagi ekosistem laut dan air tawar di wilayah.

Situasi tersebut menjadi momentum terciptanya kolaborasi antar negara ASEAN dan mitranya untuk dapat menuntaskannya.

Kolaborasi dan temuan yakni kunci untuk menyelesaikan tantangan dalam memanfaatkan dan mengelola ekosistem laut dan air tawar secara berkelanjutan,” kata Perwakilan Residen UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura, yang juga hadir dalam acara tersebut.

“Bersama-sama, kami bertujuan untuk mengembangkan solusi transformatif yang memberdayakan temuan lokal, dan menjaga ekosistem air kita yang berharga,” sambung ia.

Dikutip dari rilis legal yang diterima, UNDP telah mengadvokasi sektor biru dalam skala global selama lebih dari 25 tahun.

UNDP telah memobilisasi lebih dari USD 1 miliar untuk melindungi dan merestorasi laut di lebih dari 100 negara dan terus berkomitmen mendorong ekonomi biru global yang berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber tenaga laut dan air tawar untuk pembangunan yang inklusif.

Sebagai contoh, di Indonesia, UNDP telah membantu menghasilkan visi pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kerja sama multilateral dengan tujuan melindungi lingkungan laut dan mendorong ekonomi biru.

Join The Discussion

Terms of Service