Makan Malam di Atas Awan: Menguji Nyali dan Dompet di Restoran Skyline
Pernahkah Anda makan sambil merasa seperti sedang syuting film James Bond? Jika belum, Anda perlu mencoba satu spesies restoran yang memiliki vibe angkuh dan elegan: restoran yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit. Tempat di mana Anda tidak hanya membayar makanannya, tetapi juga membayar hak istimewa untuk melihat kemacetan kota dari ketinggian yang aman (dan ber-AC).
Desain Interior yang Mengancam Keseimbangan Jiwa
Begitu Anda melangkah masuk, Anda akan langsung disambut oleh aura kemewahan yang dingin dan terencana. Inilah ruang makan kelas atas yang modern. Lupakan kursi kayu yang hangat; di sini, yang berkuasa adalah perabotan ramping (sleek furniture) dengan desain minimalis yang sangat artistik. Kursi-kursinya tampak mahal, tapi seringkali terlalu stylish sehingga Anda harus duduk dengan postur yang sempurna (demi Tuhan, jangan sampai Anda merosot!).
Semuanya serba metal, kaca, dan garis lurus. Cahaya diatur sedemikian rupa agar tulang pipi Anda terlihat sharp, dan makanan Anda terlihat dua kali lipat lebih kecil (dan tiga kali lipat lebih mahal). Anda bisa saja merasa seperti sedang makan di galeri seni atau di dalam pesawat ruang angkasa yang dipimpin oleh seorang chef.
Jendela Panorama: Pengalih Perhatian Utama
Tapi, daya tarik utamanya adalah: jendela-jendela besar yang menghadap ke pemandangan cakrawala kota (city skyline).
Ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, pemandangannya luar biasa—Anda melihat jutaan lampu berkelip di bawah, dan Anda merasa seperti penguasa dunia (sampai tagihan datang, dan Anda kembali sadar bahwa Anda hanyalah budak cicilan). Di sisi lain, jendela ini menjadi pengalih perhatian yang kronis.
Anda mencoba mendengarkan obrolan kencan atau rapat bisnis Anda, tapi mata Anda terus-menerus auto-focus ke pemandangan di luar.
- “Ya, saya setuju dengan strategi pemasaran kuartal depan…” (Melihat ke bawah: Wow, lihat mobil-mobil itu bergerak seperti semut yang panik!)
- “Tadi saya pesan lobster thermidor…” (Melihat ke bawah: Apakah itu Gedung X? Wih, tinggi juga ya!)
Rasanya seperti ada kontes tidak resmi: siapa yang bisa fokus pada piring kecil mereka tanpa terhipnotis oleh panorama luar? Jawabannya: tidak ada. Kita semua datang ke sini untuk melihat, bukan hanya untuk makan.
Petualangan Kuliner di Ketinggian
Bagaimana dengan makanannya? Karena Anda berada di tempat yang sangat mahal dan tinggi, makanannya haruslah sesuatu yang tidak bisa Anda dapatkan di warung pinggir jalan. Porsi di restoran seperti ini seringkali didesain untuk membuat Anda merenung. Piringnya besar, tapi isinya… mungil.
Anda mendapatkan sepotong kecil tenderloin yang diletakkan secara artistik di atas puree berwarna hijau muda. Rasanya fantastis, tentu saja, tetapi Anda harus makan dengan sangat lambat dan penuh penghayatan, karena lima suap sudah habis.
Setelah hidangan utama selesai, Anda akan duduk kembali, menikmati anggur Anda, dan menatap gemerlap di bawah. Di saat inilah humor muncul: Anda baru saja menghabiskan gaji mingguan Anda untuk makan malam, hanya untuk menyadari bahwa pemandangan yang Anda nikmati adalah pemandangan dari ribuan orang yang mungkin sedang makan mi instan di bawah sana, tapi setidaknya mereka tidak perlu khawatir tentang garpu mana yang harus digunakan untuk amuse-bouche.
Mengunjungi restoran skyline ini adalah pengalaman total—ujian dompet, etiket, dan kemampuan Anda littlebentongstreet.com untuk tidak terjebak dalam fantasi menjadi oligarki global. Tapi, setidaknya, selfie di sana akan keren!
Perlu saya carikan rekomendasi restoran rooftop atau sky dining terbaik di kota besar terdekat Anda, atau Anda ingin tahu tips cara makan porsi mungil agar terlihat elegan?
Join The Discussion